Monday, 14 July 2014

Uniknya Pilpres di Yogyakarta

Panitia mengecek kembali surat suara sebelum digunakan oleh seorang warga di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta  (09/07/2014). Para panitia di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta seragam berpakaian ala pemain sepak bola seiring berlangsungnya Piala Dunia.
 
Pilihan presiden dan wakil presiden di tahun 2014 ini kembali diselenggarakan di Indonesia. Pemilihan presiden dan wakilnya dilakukan setiap lima tahun sekali. Tentunya setiap warga Indonesia ingin ikut serta dalam pemilihan ini dengan menyalurkan suaranya dengan mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang telah disediakan oleh pemerintah. Di Yogyakarta pada khususnya terdapat beberapa TPS yang sangat unik.
Contohnya di TPS 15 Purbonegaran, Terban, Yogyakarta para panitia TPS menggunakan pakaian prajurit Kraton Yogyakarta.Kemudian di TPS 9 Panembahan, tepatnya di timur Magangan Komplek Kraton Yogyakarta memakai pakaian Jawa (kejawen) sebagai seragam untuk panitia TPS setempat. Di lain tempat terdapat konsep yang lebih unik lagi seiringnya diselenggarakan Piala Dunia, yakni di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta para panitia berpakaian ala sepakbola sebagai seragamnya. 


Para panitia TPS 15 mempersiapkan surat suara yang nantinya akan diberikan kepada para pemilih pilpres dan capres tahun 2014 di Purbonegaran, Terban, Yogyakarta (09/07/2014). Panitia di TPS 15 ini berpakaian unik prajurit ala Kraton Yogyakarta guna meramaikan pilpres.

Suasana di TPS 9 Panembahan (07/09/2014). Para petugas di TPS 9 Panembahan, nDalem, Joyokusuman, Yogyakarta memilih pakaian kejawen sebagai seragam.

Salah seorang pemilihberpakaian pemain sepak bola di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta berjalan menuju kotak pencoblosan (09/07/2014). Para panitia di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta seragam berpakaian ala pemain sepak bola seiring berlangsungnya Piala Dunia.

Seorang warga menyalurkan hak pilihnya untuk memilih pilpres dan cawapres Indonesia di  TPS 15 Purbonegaran,Terban, Yogyakarta (09/07/2014). Panitia di TPS 15 ini berpakaian unik prajurit ala Kraton Yogyakarta guna meramaikan acara pemilihan capres dan cawapres Indonesia tahun 2014.

Seorang bapak menyalurkan hak pilihnya untuk memilih pilpres dan cawapres Indonesia di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta  (09/07/2014). Para panitia di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta seragam berpakaian ala pemain sepak bola seiring berlangsungnya Piala Dunia.

Seorang anak kecil menemani ibunya untuk menyalurkan hak pilih di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta yang bertemakan sepak bola(09/07/2014). Para panitia di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta seragam berpakaian ala pemain sepak bola seiring berlangsungnya Piala Dunia.

Panitia TPS 15 di Purbonegaran,Terban, Yogyakarta berpakaian prajurit ala Kraton Yogyakarta mempersilahkan memasukkan surat suara ke dalam box kepada salah seorang pemilih (09/07/2014). Panitia di TPS 15 ini berpakaian unik prajurit ala Kraton Yogyakarta guna meramaikan pilpres Indonesia tahun 2014 ini.

Seorang ibu yang diantar oleh anaknya untuk menyalurkan hak pilihnya di TPS 9 Panembahan, nDalem Joyokusuman,  Yogyakarta (07/09/2014). Para petugas di TPS 9 Panembahan, nDalem, Joyokusuman, Yogyakarta memilih pakaian kejawen sebagai seragam.

Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menyempatkan diri untuk menyidak di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta (09/07/2014). Para panitia di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta seragam unik, yakni berpakaian ala pemain sepak bola seiring berlangsungnya Piala Dunia.

Seorang panitia TPS 9 yang berpakaian kejawen memperlihatkan kartu suara kepada para saksi saat perhitungan suara(07/09/2014). Para petugas di TPS 9 Panembahan, nDalem, Joyokusuman, Yogyakarta memilih pakaian kejawen sebagai seragam.

Seorang panitia TPS 9 yang berpakaian kejawen menulis jumlah suara di lembar perhitungan suara(07/09/2014). Para petugas di TPS 9 Panembahan, nDalem, Joyokusuman, Yogyakarta memilih pakaian kejawen sebagai seragam.

Seorang panitia TPS 9 yang berpakaian kejawen memperlihatkan kartu suara yang tidak syah kepada para saksi saat perhitungan suara(07/09/2014). Para petugas di TPS 9 Panembahan, nDalem, Joyokusuman, Yogyakarta memilih pakaian kejawen sebagai seragam.

Seorang warga menyelupkan jari kelingkinya sebagai tanda sudah menyalurkan suaranya di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta (09/07/2014). Para panitia di TPS 13 Ngampilan, Yogyakarta berseragam ala pemain sepak bola seiring berlangsungnya Piala Dunia.





Wednesday, 14 May 2014

Evolusi Pembangunan Jogja



Zaman yang semakin maju mendesak kebebasan dalam hal apapun. Namun  penerapannya semua tentulah tidak harus dibebaskan, melainan dengan batasan yang wajar dan bijaksana. Dalam hal ini contoh kebebasan dalam beretika adalah pembangunan berkelanjutan demi kepentingan bersama. Di Yogyakarta dewasa ini  sudah dapat dirasakan banyaknya pembangunan gedung, hotel, jembatan dan mall. Pembangunan ini seharusnya tetap memperhatikan dampak yang akan timbul disekitarnya, seperti tergusurnya lahan pertanian, menyempitnya pemukiman warga, kemacetan, kekeringan, banjir, bahkan penumpukan sampah juga akan menjadi dampak negatif sebuah pembangunan gedung baru. Banyak warga Jogja yang mengeluh tentang pembangunan ini di twitter diantaranya adalah, 

Riyanto (35), Karyawan, Jetis “Di mana-mana hotel dibangun, kalo sumur kami kering… Kami minum apa??” #JogjaOraDidoL
Yadi (27), Gamping “Banyak penggusuran kok istimewa!! Istimewa untuk siapa?” #JogjaOraDidoL
Andi (30), Anak Petani K. Progo “Tanah Kami Jangan Ditambang” #JogjaOraDidoL






























Dolfest Photo Exhibition 2013








PROFILE





Rahmad Azhar Hutomo adalah fotografer freelance untuk liputan editorial dan reportase yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Ia lahir di Yogyakarta dan pindah ke Jakarta tahun 2015. Dia tertarik dengan cerita perjuangan seorang manusia, isu sosial, masalah lingkungan dan kebudayaan suatu daerah. Dia belajar lebih dalam dalam fotografi di Galeri Foto Jurnalistik Antara (Jakarta). Baginya, fotografi merekam segala kejadian di dunia sehingga harus siap siaga­ untuk setiap waktu. Azhar bergabung agen foto internasional Nur Photo di tahun 2014 sebagai kontributor foto. 
 

--------------------------------------
Kontak :

Phone: +6285729014377

Email: azhar_photo@yahoo.com


Sunday, 20 April 2014

Pertama Kali Drag Race Gerobak Sapi Diadakan

Untuk pertama kalinya diadakan Drag Race Gerobak Sapi yang diselenggarakan oleh Komunitas Pangrekso Andini Karyo dan didukung Pemkab Sleman pada hari Minggu tanggal 20 April 2014 bertempat di  Lapangan Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Drag Race ini diikuti 40 peserta gerobak sapi dan dimeriahkan oleh Komunitas Pejuang Yogyakarta 1945 yang memeperagakan kembali Perang Rejodani.  Acara ini dimaksudkan untuk menambah daya tarik wisatawan bagi Kota Yogyakarta sebagai Kota Budaya.




Para peserta Drag Race Gerobak Sapi di Lapangan Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta (20/04/2014). Drag Race Sapi baru pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Pangrekso Andini Karyo dan didukung Pemkab Sleman guna menambah daya tarik wisata di Yogyakarta.

Seorang Bajingan (pengemudi gerobak sapi) menaiki gerobak sapinya di acara Drag Race Gerobak Sapi di Lapangan Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta (20/04/2014). Drag Race Sapi baru pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Pangrekso Andini Karyo dan didukung Pemkab Sleman guna menambah daya tarik wisata di Yogyakarta.

Para peserta Drag Race Gerobak Sapi di Lapangan Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta (20/04/2014). Drag Race Sapi baru pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Pangrekso Andini Karyo dan didukung Pemkab Sleman guna menambah daya tarik wisata di Yogyakarta.

Peserta Gerobak Sapi memulai perlombaan Drag Race di Lapangan Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta (20/04/2014). Drag Race Sapi baru pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Pangrekso Andini Karyo dan didukung Pemkab Sleman guna menambah daya tarik wisata di Yogyakarta.

Para peserta Drag Race Gerobak Sapi mengikuti upacara pembukaan di Lapangan Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta (20/04/2014). Drag Race Sapi baru pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Pangrekso Andini Karyo dan didukung Pemkab Sleman guna menambah daya tarik wisata di Yogyakarta.

Bupati Sleman Sri Purnomo turut hadir memeriahkan Drag Race Gerobak Sapi di Lapangan Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta (20/04/2014). Drag Race Sapi baru pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Pangrekso Andini Karyo dan didukung Pemkab Sleman guna menambah daya tarik wisata di Yogyakarta.

Hadiah utama Drag Race Gerobak Sapi di Lapangan Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta (20/04/2014). Drag Race Sapi baru pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Pangrekso Andini Karyo dan didukung Pemkab Sleman guna menambah daya tarik wisata di Yogyakarta.

Seorang anggota Komunitas Pejuang Yogyakarta 1945 memperagakan reka ulang Pertempuran Rejodani dalam acara Drag Race Grobak Sapi di Lapangan Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta (20/04/2014). Drag Race Sapi baru pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Pangrekso Andini Karyo dan didukung Pemkab Sleman guna menambah daya tarik wisata di Yogyakarta.

Seorang Bajingan Seorang Bajingan (pengemudi gerobak sapi) bersiap untuk Start dalam perlombaan Drag Race Gerobak Sapi di Lapangan Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta (20/04/2014). Drag Race Sapi baru pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Pangrekso Andini Karyo dan didukung Pemkab Sleman guna menambah daya tarik wisata di Yogyakarta.

Gerobak Sapi memulai perlombaan Drag Race di Lapangan Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta (20/04/2014). Drag Race Sapi beru pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Pangrekso Andini Karyo dan didukung Pemkab Sleman guna menambah daya tarik wisata di Yogyakarta.

Peserta Drag Race Gerobak Sapi menuju garis finish di Lapangan Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta (20/04/2014). Drag Race Sapi beru pertama kali diselenggarakan oleh Komunitas Pangrekso Andini Karyo dan didukung Pemkab Sleman guna menambah daya tarik wisata di Yogyakarta.